Bahasa arab - teroka - 176
Man: اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
[Aku berlindung pada Allah dari syaitan yang direjam]
بسم الله الرحمن الرحيم
[Dengan nama Allah yang maha pemurah maha penyayang]
السلام عليكم
[Kesejahteraan ke atas kamu]
Wak: وعليكم السلام
[Dan ke atas kamu juga keselamatan]
بِسْمِ الله و بِإِذْنِهِ
[bismillaah wa bi iznih = dengan nama Allaah dan dengan izinnya]
في الأمس [fil ams] - kita dah tertengok tentang formula جملة اسمية jumlah ismiyah - nominal sentence
Formula bagi nominal sentence adalah seperti ini :
subjek - mesti definite
prediket mesti indefinite
Tapi pernah juga aku kata - arab ni kan suka mem"emphasised"kan subjek dengan menambah إنَّ inna = sesungguhnya
Maka dari ayat straight forward seperti : حامِدٌ امامٌ - haamid imaam [hamid adalah seorang imam]
Bila kita tekankan si Hamid fesen arab - jadi ler : إنَّ حامِدا امامٌ - inna haamidaa imam [ sesungguhnya hamid itu adalah seorang imam]
- disini tumpuan kita betul2 pada siHamid itu sungguh2!
- maka arab pun letakkan formula dengan "tanda" baris atas di huruf akhir - "Hamid"
- maka baris atas pada Hamid itu - menunjukkan bahawa "hamid" sekarang - sudah menjadi tumpuan kita!
Man: Haaa.... dengan kata lain - Hamid sekarang sudah jadi - منصوب - mansuub - kan wak? Yaitu nak beritahu kita bahawa - kalau satu kata "isim" itu dah berbaris atas - cepat2 kita refer balik kedepannya. Oh ada إنَّ inna! Maka si Hamid ini ler - yang mesti dijadikan tumpuan kita betul2
Wak: Iyer -ceritanya kita cuma nak Emphasisedkan si-Hamid itu ajer. Memang gitu kelakunya. Arab ni kan suka - meng"exaggerate" ...
Man: Baik wak! Kalo kita nak tambahkan ke"exaggerate"tan subjek - kita cuma guna "inna"
Wan: Kemudian kita nampak pulak : شبه جملة [phrase] - yang tak berlaku seperti yang disarankan oleh nahu!
- iyer - kesnya ialah seperti dimana "isim" yang mengikuti preposition itu berakhirkan dengan "alif maqsuurah" atau "alif" biasa!
- هو في المستشفى [huwa fil mustashfaa = he is in the hospital]
atau - هو في انجلترا [huwa fil injilteraa = he is in England]
Tengok! في الأمس kita kata : انكلترا [inkilteraa]
اليوم [alyaum] kita kata pulak : انجلترا [injiltera]
- Eleh! Mana2 pun boleh. Tengok mana2 yang lidah engko rasa rengan nak sebut!
Tapi ceritanya yang nak diterangkan disini adalah :
- telah datang dua kes dalam شبه جملة [phrase] yang tak berfungsi.
- yaitu pada isimnya yang berakhir dengan "alif" atau "alif maqsuurah"
Man: Iyer wak. Kes majruur pada akhir huruf isim - mesti berbaris bawah
- tapi ia tak berlaku kalo
- huruf akhirnya berupa "alif maqsuurah"
- atau pada kes huruf akhirnya yang ada huruf "alif" tegak
Wak : صحيح [sahiih]
Man: Dalam kes tadi wak! Apasal wak tak tekankan subjek ayat itu seperti
إن هو في انجلترا [inna huwa fil injiltaraa]
Wak: Eh... bukan main tambah2 gitu jer. Kena buat gini pulak ler:
- إنهُ في انجلترا innahu fii injilteraa
- "huwa" mesti dipendekkan menjadi "hu" dan dilekatkan pada "inna"
Man: Ohohoh sorry wak - إنهُ في انجلترا innahu fii injiltaraa
Wak: Jadi kesimpulannya:
- bilakah شبه جملة tak nampak kesannya seperti saranan nahu?
Man: Dalam dua keadaan:
- bila "isim" yang berakhir dengan "alif maqsuurah"
- bila "isim" berakhir dengan "alif" sebatang
- leeh.... dua2nya tu kan "alif" pun juga - wak! Tak gitu?
Wak: Iyer - cuma satu "alif" berupa "ya" - dan satu lagi "alif" betul2 berdiri tegak!
خلص [khalas]
Kita jumpa balik غدا - ghadan
Man: Lega wak! شكرا [syukran] wak!
Wak: عفوا [afwan] Jumpa lagi غدًا [ghadaan]
والله أعلم
- dan Allaah lebih mengetahui
إلى اللقاء
- ke pertemuan lain/bye
siri : 240227
https://dinobytes.info/v2/content/himpunan-bahasa-arab-baru-terokabahasa...
